Menggabungkan seni kaligrafi
Tiongkok dengan konsep modern, Ipphing memamerkan
karya-karyanya selama 20 hari di Lobby Atrium Main
Wing Hyatt Regency Surabaya. Sebanyak 24 karya lukisnya
dipajang mulai 21 Maret sampai 9 April 2007 dalam
pameran bertajuk The Biography of Ipphing itu.
Pameran dibuka
oleh ketua Paguyuban Masyarakat Tionghoa, Liem Ou
Yen, yang membubuhkan tanda tangannya di sebuah kanvas
kosong disaksikan oleh GM D~NET Surabaya, Caroline
Gondokusumo dan GM Hyatt Regency Surabaya Guntur Tampubolon.
Selanjutnya, goresan tanda tangan ini disempurnakan
oleh sang pelukis menjadi sebuah karya seni yang utuh.
Lukisan-lukisan
pria yang pernah absen dari dunia seni lukis selama
20 tahun ini kesemuanya memiliki arti tersediri. Namun,
sebagian besar karyanya seakan-akan menyerukan kepada
supaya tidak melupakan alam. Menurut pria yang berdomisili
di Bali ini, matahari, hujan, angin dan unsur alam
yang lain berkaitan erat dengan siklus hidup manusia.
Filosofi ini tergambar dalam beberapa karyanya yaitu
Yu Ge Zi, Semua Orang Kepingin Bahagia dan Sang Wartawan.
Dalam karya terbaru
sekaligus masterpiecenya, Yu Qing, Ipphing seolah
hendak menceritakan tentang datangnya sinar matahari
setelah hujan. Di lukisan itu, tampak separuh wajah
perempuan berpakaian adat Tionghoa sedang memegang
dua tangkai bunga yang dikelilingi beberapa kupu-kupu
dan lebah. Dalam lukisan ini Ipphing menunjukkan pemikirannya
tentang etnis Tionghoa yang sejak kerusuhan Mei lalu
sebenarnya telah diberikan kesempatan lebih untuk
banyak berkiprah di bumi Indonesia. Namun, mereka
sendiri masih meragukan kesempatan itu.
Selama dua puluh
hari, pameran ini cukup mampu menarik banyak orang
untuk berkunjung. Sambutan media pun cukup meriah.
Tercatat tak hanya media cetak yang menyempatkan diri
datang untuk meliput sang maestro. Beberapa media
elektronik turut meluangkan waktu untuk berbincang-bincang
dengan Ipphing.